Senin, 15 Oktober 2012

Pulau Jawa Nyiluman


Oleh: Prof.Dr.KH.Abdul Ghofur (pengasuh pondok pesantren sunan drajat) banjaranyar paciran lamongan
FIKSI | 16 October 2011 | 13:20
Pagi yang sangat terang, sedikit berkabut, dan langit merah masih menyelimuti ufuk Timur. Lembah pasir yang luas itu masih tidur, dan sesekali riak-riak angin kecil menghamburkan butiran pasir kecil. Pasir-pasir itu semakin beterbangan tinggi mengepul seperti badai pasir, diikuti suara tapak kuda yang sangat kencang sekali. Rombongan kuda itupun berhenti di depan istana.
Raja Rum menyambut dengan hormat sekali. Diantara rombongan itu ada seseorang yang tinggi, kurus, berjambang tebal agak putih. Berjalan paling depan. Ia memberi salam kepada Raja Rum. Dia merunduk memberikan hormat, demikian juga raja merunduk memberi hormat tidak lebih dari perkiraan hormatnya. Rajapun mengajak memasuki ruang utama. Keduanya berjalan sejajar. Seorang wali, ulama, dan maha guru yang sangat terkenal. Namanya Syekh Subakir, diikuti beberapa cantrik. Keluarga kerajaan, para punggawa, dan abdi kerajaan mengantarkan mereka ke ruang pertemuan raja-raja. Raja dari Aceh pernah memasuki ruang itu minta bantuan meriam raksasa untuk menaklukkan kerajaan Malaka.
Ruang pertemuan yang sangat angker. Ketika raja-raja Romawi menguasai ruang itu, banyak sekali nyawa mati sia-sia. Raja duduk diatas tahtanya didampingi 12 patih. Tidak jauh dari Raja duduk seorang ulama terpilih, Syekh Subakir, dan beberapa cantrik syekh yang dipercaya. Semua duduk melingkar bertatap satu kepada Raja Rum.
Sekitar sebulan lalu raja menceritakan pengiriman tentara khusus ke tanah Jawa. Semua utusan dan binatang unggas yang di kirim ke tanah Jawa mati terbakar. Raja menceritakan juga, penduduk Jawa yang ‘nyiluman,’ mereka dikuasai oleh para belis, hantu, dan jin prayangan karena dendam para dewa yang dieluk-elukkan oleh penduduk Jawa sendiri. Mereka sengaja menciptakan mahluk baru di tanah Jawa yang disebut dengan jin-jin prayangan, dan mahluk seperti kita tidak boleh memasukinya.
Mendengar cerita ini, Syekh Subakir memejamkan mata sejenak, demikian juga para cantrik.
Sebentar kemudian Syekh mendesah dan membuka wasiatnya, “Wahai Raja ! Tanah Jawa sudah dikuasai oleh hantu. Mereka sangat kokoh dan kuat. Kita tidak bisa memasuki tanah Jawa tanpa bekal yang kokoh. Para penduduk Jawa seperti dihujani tumbal agar menjadi hantu, tidak terlihat, dan menjadi budak hantu di alamnya. Mereka sengsara, kesakitan, dan merintih memohon pertolongan dari Dzat Yang Maha Kuasa.”
“Apakah Syekh memiliki tumbal yang bisa mengimbangi kekuatan tumbal mereka !”
Syekh tersenyum, “Atas kehendak Tuhan Yang Maha Perkasa, kami akan berusaha mengimbangi kekuatan itu.”
“Terserah bagaimana baiknya menurut Kanjeng Syekh, kami percaya semua upaya jimat atau tumbal yang hendak dibuat Kanjeng Syekh dan Cantrik mampu mengalahkan penguasa Jawa.”
Para ulama, ke-12 patih, Syekh, dan para Cantrik segera mempersiapkan tumbal. Tumbal yang dimaksud adalah kekuatan doa yang dimasukkan ke dalam media tertentu, dengan cara-cara tertentu, menggunakan Asma Allah lantaran Kekuatan-Nya.
Pada hari itu mereka menyatukan kekuatan antara Syekh, Cantrik, ulama dan para abdi yang bisa dipercaya melakukan ritual bersama. Syekh yang memberikan konsep dan aturan main, dan bersama-sama memohon izin kepada Yang Maha Kuasa sesuai aturan yang diberikan Syekh Syubakir. Kekuatan itu bahu membahu membuat jimat [1]) untuk mengalahkan jimat yang dikuasai oleh hantu-hantu yang Penguasa tanah Jawa.
Seperti delegasi pertama, Raja Rum mengirimkan 2 laksa jodoh. Hitungan jumlah tidak ditentukan. Masing-masing jodoh dibuatkan jimat untuk keselamatan masing-masing. Hewan Unggas, mamalia, dan jenis lain juga dibuatkan jimat di tubuh mereka. Agar ketika menginjakkan kaki di tanah Jawa sudah memiliki perlindungan dari serangan hantu yang menguasai tanah Jawa.
Syekh Subakir dan para Cantrik yang dipercaya, juga membuat jimat untuk menetralkan karakter bumi Jawa. Bumi Jawa yang sudah dipola oleh para hantu agar tidak bisa dihuni oleh manusia, dengan jimat-jimat jahatnya, juga memerlukan jimat lain. Syekh membuat jimat khusus yang berisi doa-doa, yang dimasukkan ke dalam media tertentu seperti manusianya, dan kelak akan dimasukkan ke dalam tanah di seluruh zona penting di wilayah Jawa.[2] ) Khususnya gunung-gunung Jawa mulai dari Banyuwangi, Tengger, Malang, Ngawi, Sampurna, dan sampai gunung di Pajajaran. Masing-masing gunung di tanah Jawa sudah dideteksi oleh Syekh, dan membuat jimat atau tumbal sesuai dengan jumlah gunung yang ada.
Raja Rum dan ke-12 patih mempersiapkan delegasi yang dipimpin oleh tiga pemimpin sesuai bidangnya masing-masing. Upacara pemberangkatan dilakukan oleh Raja Rum dan ke-12 patih. Kapal-kapal besar dipersiapkan. Memuat manusia berjodoh-jodoh, hewan-hewan Unggas atau Mamalia, semua dikendalikan oleh tiga pemimpin besar. Tidak lupa jimat-jimat untuk masing-masing keluarga, hewan, sudah ditempelkan di tubuh mereka sesuai petunjuk Syekh. Juga tumbal-tumbal untuk menaklukkan karakter bumi Jawa dan gunung-gunung yang ada di tanah Jawa. Semua sudah siap menandingi kekuatan tumbal yang dibuat para hantu gentayangan di bumi Jawa.
Teriring doa kepada Sang Maha Kuasa, Sang Raja melepaskan kepergian tiga kapal besar yang dipimpin oleh Patih Bungsu, Ki Sentono, dan Syekh Subakir. Badan kapal mulai melepaskan pantai, dan melaju perlahan mengarungi samudera, melawan ombak dan memecahkan segala rintang samudera.

[1] ) Dalam wacana kultur islam Jawa, istilah jimat berasal dari kata Jamak, artinya kumpulan . Maksudnya kekuatan jauhar doa dikumpulkan dan dimasukkan ke media tertentu, ini namanya jimat. Jimat itu mengandung kekuatan tertentu sesuai karakter doa yang disisipkan ke media yang dibuatnya.
[2] ) Dalam kajian purbakala, para arkelog sering menemukan situs-situs di wilayah yang berbeda tentang perkembangan islam, selalu ditemukan beberapa makam tua. Penduduk setempat selalu menyebut makam tersebut dengan makam dowo (Jawa=panjang). Yang membingung bagi para arkeolog, kenyataan fisik makam tidak dowo (panjang), ada yang panjang dan ada yang pendek, namun penduduk setempat menyebut dengan makam dowo.
Menghadapi fenomena situs seperti ini, Penulis pernah berbicara dengan seorang Kyai (Prof. Dr. KH Abdul Ghofur pemangku Pondok Pesantren Sunan Derajat Lamongan) tentang maksud Makam Dowo, rupanya Kyai saya juga pernah menyelidiki apa isi makam dowo. Beliau memastikan penyebutan makam dowo oleh penduduk dengan menggali situs. Ternyata hasilnya, itu bukan makam. Tidak ada mayat, bangkai, tulang atau indikasi-indikasi yang menunjukkan pernah dihuni oleh jasad manusia. Didalamnya hanya berisi tumpukan batu yang sudah ditata rapi oleh yang membuat. Beliau pun mentranslitkan maksud Makam Dowo, bukanlah makam (kuburan), melainkan makam adalah tempat doa. Lidah Jawa menyebut kata “Doa,” dengan logat “Ndonga,” maka lama-kelamaan ter-translitkan menjadi dowo sesuai dengan logat Jawa. Jadi menurut beliau, makam dowo bukan makam panjang, melainkan doa. Doa yang dimaksud adalah tinggalan doa (jimat) yang dibuat Syekh Subakir. Doa tersebut dimasukkan media dan ditanam disebut tumbal atau jimat di tanah Jawa untuk mengalahkan hantu atau demit yang menguasai tanah Jawa.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar